Ketika Nikmat Dikurangi

Allah swt memang paling tahu kelemahan kita, dan Dia menguji kita tepat di titik itu untuk menguatkannya. Setidaknya kalimat manis itu yang aku gunakan untuk menghibur diri sendiri saat ini.

Sekitar 1 bulan yang lalu, aku merasa ada yang aneh di mata sebelah kiri. kelopak matanya terasa pegal dan kaku, dan keesokan harinya ketika bercermin aku melihat kelopak mata sebelah kiri turun sedikit.

Akupun mulai bertanya-tanya kenapa tapi tidak terlalu mengkhawatirkannya juga karena kupikir ah mungkin digigit serangga atau mungkin alergi terkena debu. Ya sudah… didiamkan saja dan beraktifitas seperti biasa.

Tapi 2 hari kemudian aku menyadari kelopak mataku makin turun, sampai setengah menutup dan terasa berat rasanya kalau didiamkan kelopak mata yang sebelah kiri itu akan menutup sendiri. Jadi supaya mata yang sebelah kiri itu terap terbuka aku harus membelalakkan mataku. Alhasil penampakanku jadi aneh… 😦 😦

Sebelah mata yang kanan membelalak sedangkan mata yang kiri setengah menutup. Ditambah lagi dengan kondisi memaksakan mata seperti itu, alis pun jadi pegal, timbul migrain, dan mata tidak sanggup terkena sinar matahari. Kalau duduk di luar aku hampir tidak bisa membuka mata.

Mulailah aku panik, ada apa dengan mataku?

Usaha pertama yang aku lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter mata. Tapi sayangnya dokter mata langganan sedang seminar dan baru akan praktek lagi 4 hari kemudian. Jadi aku mendatangi dokter mata yang lain yang belum pernah kudatangi. Hasilnya tidak memuaskan, mengecewakan. Dokter tidak bisa menjelaskan apa-apa dan hanya memberi tetes mata saja.

Usaha kedua aku menemui dokter spesialis syaraf di rumah sakit. Karena baru pertama kalinya berhubungan dengan masalah syaraf aku belum memiliki referensi dokter mana yang recommended. Jadi karena melihat dokter yang aku datangi ini memiliki gelar master dari luar negeri aku berkesimpulan bahwa dia good qualified πŸ˜€

Dokter menanyai apa keluhanku dan kemudian dia searching di google via smartphone-nya soal gejala penyakitku. Aku heran sendiri, koq nyari di google? kalo gugling mah ngapain harus bayar dokter? aku sendiri pun bisa :p

Kemudian dokter bilang, “Kemungkinan ibu terkena penyakit MG.” Sambil kemudian menunjukan artikel tentang penyakit MG (myasthenia gravis) dari smartphone-nya.

Aku terhenyak kaget dan kemudian bertanya: “Bisa disembuhkan nggak, dok?”

“Tidak bisa bu, penyakit MG tidak bisa disembuhkan. Obat pun hanya bisa menahan gejalanya saja. Dalam kondisi lanjut otot yang turun bukan hanya otot kelopak mata tapi juga otot badan sehingga badan menjadi lemah dan suara pun berubah mengecil. Penyakit MG timbul bukan karena virus atau bakteri tapi karena antibodi menggerogoti tubuh sendiri. Biasanya juga ada disertai dengan adanya tumor di kelenjar thymus di dalam rongga dada. Ini saya tuliskan resep, minggu depan kesini lagi saya kasih rujukan buat CT Scan di RSHS.”

Deg!

Aku rasakan kata-kata dokter itu seperti pukulan yang telak mengena di ulu hati.

Aku terdiam tidak bisa berkata-kata karena tahu kalau aku berbicara pasti suaraku akan bergetar dan kemudian diikuti air mata.

Keluar dari ruangan dokter dengan hati galau, aku memutuskan aku tidak boleh begitu saja menyerah pada vonisnya. Aku ingat jam 6 ada dokter syaraf lain yang praktek di salah satu apotek. Aku pun bergegas menuju kesana.

Dokter yang kedua ini awalnya mendiagnosa penyakit yang sama dengan dokter pertama, tapi dia kemudian melakukan pemeriksaan lanjutan, melakukan pemeriksaan fisik dan juga tes suara. Untungnya tes suaranya cuma disuruh berhitung dari 1 sampai 50 dan bukannya disuruh nyanyi…wkwkwk…

Selesai pemeriksaan dokter mengatakan kesimpulannya, “Kemungkinan ibu terkena MG hanya 50%, keyakinan terbesar saya adalah syaraf di kelopak mata ibu hanya terkena infeksi. Saya kasih resep obat, minggu depan kesini lagi dilihat bagaimana perkembangannya.”

Plong….

Rasanya luar biasa kelegaan yang aku rasakan saat itu. Aku sangat bersyukur bahwa aku memutuskan untuk segera menemuinya. Rasanya tidak terbayangkan jika aku langsung pulang ke rumah dengan membawa vonis dokter yang pertama. Sepertinya akan bertambah penyakitku dengan penyakit pikiran.

*Sepertinya kepanjangan, bersambung ke artikel selanjutnya deh….

Advertisements

One thought on “Ketika Nikmat Dikurangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s